Tata Cara dan Jumlah Raka’at Shalat Tarawih


Asy-Syaikh Al-Albany rahimahullah berkata dalam kitab “Shalat At-Tarawih”:
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Tidaklah Shalat Tarawih Lebih Dari Sebelas Raka’at.

Setelah kita menetapkan bahwa shalat tarawih dilakukan dengan berjama’ah berdasarkan persetujuan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, perbuatannya dan dorongannya, maka kami menjelaskan berapa raka’atkah beliau shalat tarawih? Sebagaimana disebutkan dalam hadits ‘Aisyah dalam Ash-Shahihain berikut ini: “Tidaklah Rasulullah menambah (dalam shalat malamnya) pada Ramadhan atau selain Ramadhan lebih dari sebelas raka’at.”
Hadits Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Shalat Dua Puluh Raka’at Itu Lemah Sekali

Al-Hafizh berkata setelah mensyarah hadits di atas (4/205-206): “Adapun yang diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah dari hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma: “Adalah Rasulullah shalat (tarawaih) di bulan Ramadhan sebanyak dua puluh raka’at dan witir.” Adalah hadits yang lemah. Dia bertentangan dengan hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha di atas yang diriwayatkan dalam Ash-Shahihain, bersamaan dengan ini ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha adalah orang yang paling tahu kehidupan Rasul di malam hari.”

Dan Az-Zaila’iy dalam “Nashb Ar-Rayah” mengatakan lebih dahulu seperti yang dikataka Al-Hafizh.

Dan hadits Ibnu ‘Abbas ini lemah sekali sebagaimana dikatakan As-Suyuthy dalam “Al-Hawy lil Fatawa” (2/73). Tidaklah Diriwayatkan Dari Shahabat Bahwa Satu Dari Mereka Shalat Tarawih Dua Puluh Raka’at

Ada banyak riwayat menyebutkan bahwa ada beberapa shahabat yang shalat tarawih dua puluh raka’at, namun semuanya tidaklah benar penisbahannya kepada mereka. Dan diantara riwayat tersebut adalah sebagai berikut:

Pertama: Dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu.

Dari jalan Abu Hasna’ “Bahwa ‘Ali memerintahkan seseorang untuk shalat bersama kaum muslimin pada bulan Ramadhan dua puluh raka’at.”. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam “Al-Mushannaf” (2/90/1) dan Al-Baihaqy (2/497).

Riwayat ini lemah, sebabnya adalah Abu Hasna’. Adz-Dzahaby berkata: “Dia tidak dikenal”, dan Al-Hafizh berkata: “Majhul”.

Kedua: Dari Ubay bin Ka’ab radhiyallahu anhu

Yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah (2/90/1) dengan sanad yang shahih sampai Abdul ‘Aziz bin Rafi’ berkata: “Adalah Ubay bin Ka’ab shalat bersama manusia pada bulan Ramadhan di Madinah sebanyak dua puluh raka’at dan witir tiga raka’at.”

Akan tetapi sanad ini terputus antara Abdul ‘Aziz dan Ubay.
Ketiga: Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu

Diriwayatkan oleh Ibnu Nashr dalam “Qiyam Al-Lail” (91) dari Zaid bin Wahb: “Adalah Abdullah bin Mas’ud shalat bersama kami di bulan Ramadhan. Lalu berpaling dan atasnya malam hari.” Al-A’masy berkata: “Dia shalat dua puluh raka’at dan witir tiga raka’at.”

Al-Mubarakfury berkata dalam “At-Tuhfah” (2/75): “Ini juga terputus, karena Al’-A’masy tidak mendapati Ibnu Mas’ud.”

Bolehnya Shalat Lebih Sedikit Dari Sebelas Raka’at

Jika ada yang berkata: Jika kalian melarang dari menambah lebih dari sebelas raka’at, seharusnya kalian juga melarang dari mengurangi dari sebelas raka’at.

Maka jawabannya: Hal ini (pengurangan) telah diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari jalan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha: “Bahwa beliau shalat malam dengan empat dan tiga raka’at witir, shalat enam raka’at dan tiga raka’at witir, dan sepuluh dengan tiga raka’at. Tidak witir kurang dari tujuh dan tidak lebih dari tiga belas.” Diriwayatkan oleh Abu Dawud (1/214).

Tata Cara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Menunaikan Shalat Tarawih

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menunaikan shalat tarawih dengan beberapa cara. Dan diantaranya:

Pertama: Shalat 13 raka’at beliau mengawalinya dengan dua raka’at yang ringan.

Telah diriwayatkan beberapa hadits dan diantaranya: Hadits Zaid bin Khalid Al-Juhany bahwa dia berkata; “… Lalu beliau shalat dua raka’at yang ringan, kemudian shalat dua raka’at yang panjang-panjang, kemudian shalat dua raka’at dan keduanya lebih ringan dari yang sebelumnya, kemudian shalat dua raka’at dan keduanya lebih ringan dari yang sebelumnya, kemudian shalat dua raka’at dan keduanya lebih ringan dari yang sebelumnya, kemudian witir dan itulah 13 raka’at.” Diriwayatkan oleh Muslim.

Kedua: Shalat 13 raka’at, melakukannya delapan raka’aat dan salam pada setiap dua raka’at kemudian witir dengan lima raka’at dan tidak tasyahud kecuali pada raka’at kelima. Hal ini berdasarkan hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “.. Kemudan beliau shalat delapan raka’at, beliau tasyahud pada setiap dua raka’at dan salam. Kemudian beliau witir sebanyak lima raka’at tidak duduk tasyahud kecuali pada rakaa’at kelima dan tidak salam kecuali pada raka’at kelima.” Diriwayatkan oleh Ahmad dan sanadnya shahih.

Ketiga: Shalat 11 raka’at, kemudian salam pada setiap dua raka’at kemudian witir dengan satu raka’at. Hal ini teriwayatkan dalam hadits ‘Aisyah radhitallahu ‘anha: “Adalah beliau shalat… sebelas raka’at, dan salam pada setiap dua raka’at dan witir dengan satu raka’at…” Diriwayatkan oleh Muslim.

Keempat: Shalat 11 raka’at, melakukan salam pada raka’at keempat, lalu shalat dan salam pada raka’at keempat lalu witir tiga raka’at. Sebagaimana hal ini disebutkan dalam hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dalam Ash-Shahihain.

Inilah saduran ringkas mengenai shalat tarawih dari kitab “Shalat At-Tarawih” karya Asy-Syaikh Al-Albany. Penyaduran dilakukan disertai dengan peringkasan. Bagi yang ingin melihat secara luas lihat pada kitab tersebut yang setebal 132 halaman.

‘Umar Al-Indunisy

Darul Hadits – Ma’bar, Yaman

Sumber: http://thalibmakbar.wordpress.com/2010/08/09/22-shalat-tarawih-rakaatnya-dan-tata-caranya/

About these ads