Apa yang harus dilakukan jika saat azan masih ada cawan di tangan?


Bagaimana jika muadzin sudah adzan dan di tangan kita masih ada cawan?

Sebuah hadits diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘akaihi wa sallam bersabda,
إذا سمع أحدكم النداء و الإناء على يده فلا يضعه حتى يقضي حاجته منه

“Jika salah seorang kalian mendengar adzan dan masih ada cawan di tangan kalian, hendaknya jangan meletakkannya sampai dia menuntaskan kebutuhannya darinya.”

Hadits ini dishahihkan oleh sekumpulan ahli hadits, dan yang benar hadits ini tidak shahih, Ibnu Abu Hatim menyebutkannya dalam Al-’Ilal bahwa hadits ini mauquf pada Abu Hurairah. Pernah guru kami Syaikh Muqbil menshahihkan hadits ini tapi kemudian beliau rujuk darinya. Yang menjadi syahid dari hadits ini bahwa seseorang tidak boleh bermudah-mudahan dalam puasanya. Hendaknya di waktu puasa dia berpuasa dan diwaktu bukalah dia berbuka.


Tambahan pembahasan:

Permasalahan ini banyak terjadi padanya perbedaan, terutama tentang penshahihan hadits tersebut dari Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam. Dan diantara yang mengatakan akan tsabitnya hadits ini adalah Syaikh Al-Albany rahimahullah dan Syaikh Muhammad Al-Imam hafizhahullah. Keduanya mengatakan dalam kitab dan pelajarannya bahwa diperbolehkan menuntaskan sahurnya meskipun sudah adzan, dengan catatan sesuai dengan kebutuhannya. Dan hal ini dilakukan karena ada kebutuhan dan bukan dibiasakan untuk selalu terlambat sahur sampai adzan lewat.

Dan adzan yang diperhitungkan adalah adzan yang benar-benar dikumandangkan saat fajar shadiq, bukan yang mengikuti jadwal shalat abadi. Akan tetapi seseorang bisa memanfaatkan adzan yang dilakukan oleh keumuman manusia yang mengikuti jadwal abadi yang mana kebanyakannya dilakukan sebelum fajar sebagaai tanda bahwa fajar sudah dekat, sehingga dia bisa memposisikan diri agar tidak menerjang fajar dalam sahurnya. Demikian dinasehatkan para masyayikh kami di Darul Hadits Ma’bar.

Masing-masing orang dalam permasalahan yang diperselisihkan berusaha untuk mencari tahu sebisa mungkin kemudian mengamalkan sesuai keilmuannya bahwa inilah yang benar yang lebih mendekatkan diri pada Allah Ta’ala, dan tidak selayaknya untuk mengecam orang yang memilih pendapat yang lain. Baginya ilmu yang dibukakan oleh Allah Ta’ala baginya dan bagi orang lain ilmu yang dibukakan oleh Allah Ta’ala bagi dirinya.

Ulasan Syaikh Al-Albany rahimahullah bisa dilihat di Tamamul Minnah, Silsilah Shahihah no hadits 2031, Kaset Fatawa Jaddah no 25, Adh-Dha’ifah no. 6452, Ash-Shahihah no. 1394.

Dan untuk tambahan rujuk perkataan Al-Hafizh pada Fath Al-Bary 4/109-110.

Sumber: http://thalibmakbar.wordpress.com/2010/07/29/09-sudah-adzan-dan-masih-ada-cawan-di-tangan/

About these ads