Prosa Senja


Rekahan senyum tak hilang kekhusyu’annya
Menyambut sinaran mentari senja di ufuk beranda
Gelak tawa canda tak kehilangan semilirnya
Temani batu dan debu yang tak jua beranjak dari kepingan jiwa
Namun kosong juga tak mau sirna dalam dada
Kepantasan saja sudah tak sudi lagi hinggap padanya
Lalu apa?
Apa yang tersisa tuk diselamatkan?
Apa lagi yang kan terbawa dalam jurang kefanaan?
Akankah air itu kan pasti pergi ke hilir?
Ataukah ia tersesat dalam liku perjalanan hingga tak dapati muaranya?
Biduk itu…
Kemanakah arah variannya?
Tak bisakah tetap disini?
Hanya di jalan lurus ini?
Tuk hadapi segala rintangannya
Walau terang harus pasrah bergantian dengan gelap
Hingga saat itu tiba
Saat hembusan angin kabarkan bahagia
Bahwa ketegaranmu tak berakhir sia-sia
Esok cahaya abadi pasti kan kau jelang jua

Yogyakarta, 2005/2006

Artikel Terkait:

About these ads

One response to “Prosa Senja

  1. Ping-balik: Tak Lagi Bermakna « Beranda Hanifatunnisaa·

Komentar ditutup.