Jika Anak Sakit Perut


Coba cermati, apakah si kecil sungguh-sungguh sakit perut ataukah lantaran ada masalah yang tak dapat diungkapkannya.

 Suatu hari, Malik, anak lelaki saya yang berusia 4 tahun, mengeluh sakit perut. Sehari dia bisa 2-3 kali buang air besar tapi tidak diare. Saya menganggapnya wajar karena dia biasa seperti itu terutama kalau kebanyakan makan. Gejala lain seperti demam, batuk, dan pilek juga tidak ada. Hanya saja memang wajahnya tampak murung dan lesu. Rasa khawatir tentunya ada. Karena itu, ketika pada malam hari kedua sakit perutnya belum juga sembuh, saya membawanya ke dokter anak di dekat rumah, dr. Edi S. Tehuteru, Sp.A.

Di ruang praktik, saya ceritakan keluhannya. Dokter pun mengajukan beberapa pertanyaan seperti: apakah ada demam, ada darah pada urine atau tinja, sakit kepala, mual, muntah, dan sesak napas. Ia juga menanyakan apakah kami habis pulang bepergian ataukah Malik makan sesuatu yang memicu sakit perutnya. Ketika dr. Edi memeriksa dengan stetoskop, saya pun diminta mendengarkan lewat alat tersebut suara napas Malik yang menurutnya bersih, tak ada gangguan. Kemudian dr. Edi menanyakan pada Malik, dari bagian daerah perut yang ditunjukkan dokter, manakah yang menurutnya terasa sakit? Lalu Malik menunjuk ke arah sekitar pusar.

Selesai diperiksa, Malik turun dari tempat tidur. Dia berjalan-jalan di sekitar ruang praktik, ke wastafel, mengambil boneka-boneka di rak ruang periksa, dan sebagainya. Sementara saya dan dr. Edi memerhatikan tingkahnya. Tak lama kemudian Malik minta ditemani pengasuhnya bermain di luar ruang praktik.

“Lihat tadi kan, Bu? Dia tenang-tenang saja tidak seperti orang yang kesakitan, tidak ada rasa gelisah atau meringis yang sangat seperti orang yang sakit perut. Sebenarnya, mungkin itu hanya masalah psikis saja, Bu. Tak perlu khawatir,” kata dr. Edi seraya tersenyum ramah.

SEKITAR PUSAR

Dia lantas menjelaskan, sakit perut pada anak ada yang berulang, sekurangnya 3 kali dalam waktu 3 bulan. Sama halnya dengan sakit perut yang mendadak, sebagian besar penyebabnya pada anak di bawah 2 tahun adalah organik (mikroba), sedangkan pada anak yang lebih besar hampir 90% tidak diketahui penyebabnya. Bisa jadi pemicunya adalah faktor emosi atau psikis.

Meski sebagian besar sakit perut tak diketahui penyebabnya, bukan berarti tak perlu dilakukan pemeriksaan penunjang. “Kita baru bisa mengatakan penyebabnya adalan non-organik bila sudah dilakukan pemeriksaan penunjang secara lengkap. Jadi, pada anak prasekolah yang mengatakan sakit perut, tetap harus dilakukan pemeriksaan,” tandas dr. Edi.

Apalagi, rasa sakit perut yang dirasakan setiap anak itu berbeda-beda. Ada yang merasa seperti ditusuk-tusuk, ditarik-tarik, mulas, dan sebagainya, tergantung pengalamannya masing-masing. Yang pasti, jika tak ada gejala sakit lain yang mendasarinya seperti diare, muntah, demam, dan sebagainya, maka bisa diduga sakit perutnya karena masalah psikis. “Umumnya, anak yang sakit perut karena psikis selalu menunjuk pada bagian perut di sekitar pusar. Saya juga kurang paham mengapa bagian tersebut, tapi itu memang ciri khasnya,” ujar dr. Edi.

Sakit perut karena psikis biasanya lantaran anak mengalami suatu masalah sementara dia tak bisa mengekspresikan keinginan dan perasaannya. Emosi ini akan berpengaruh pada tubuhnya. Tubuh tak bisa dibohongi sehingga terwujudlah dalam bentuk gejala penyakit. Ini yang umum dibilang psikosomatis. Jika masalahnya sudah diketahui dan kemudian diatasi, rasa sakit perutnya akan hilang. Nah, pada anak usia ini, menurut dr. Edi, sering kali ditemui kasus seperti itu. “Bahkan pada anak yang usianya lebih besar, selain sakit perut, psikosomatis juga sering terwujud dalam bentuk pusing, mual dan muntah. Coba deh, Ibu perhatikan anak-anak usia sekolah yang tegang menjelang ujian,” tambah dr. Edi.

GALI MASALAH

Kemudian dr. Edi membagikan pengalamannya menangani pasien cilik lain seusia Malik dengan keluhan dan gejala serupa. “Saya tanyakan pada orangtuanya, apakah ada masalah di rumahnya? Kemudian saya juga tanya pada anaknya, apakah dia mau ceritakan sama saya?

Dia sempat melihat ke papanya dan bilang takut dimarahi papa. Saya lalu bilang ke papanya untuk keluar sebentar dari ruangan. Setelah itu, berceritalah si anak. Ternyata, gara-garanya di sekolah dia diwajibkan temannya membawa cokelat. Kalau tidak bawa cokelat nanti dia enggak akan ditemani. Bagi dia ternyata hal itu menyedihkan sekali. Akhirnya dia memang tidak ditemani,” tutur dr. Edi.

Masalah lainnya, lanjut dr. Edi, di lingkungan rumahnya si anak mempunyai 4 orang teman main dan salah satunya mengambil mainannya. Dia lalu tidak mau lagi berteman dengannya. Tapi dia juga takut kalau cerita pada orangtuanya nanti dimarahi. Akhirnya dia memendam perasaan tersebut. “Setelah selesai bercerita, saya tanyakan pada si anak, bagaimana perasaannya? Dia merasa lega. Kemudian saya tanya lagi, apakah saya boleh menceritakan pada papanya? Dia sempat diam beberapa lama, baru kemudian mengangguk. Papanya lalu saya minta masuk ke ruangan lagi dan kami obrolkan bersama cerita tadi. Ternyata apa yang dikhawatirkan anak bahwa papanya akan marah tidak terbukti. Jadi, sebetulnya orangtua harus sadar untuk mau mendengarkan anak. Sebelum mereka keluar ruang berpamitan, saya berikan nomor handphone saya pada si anak, ‘Telepon aku ya kalau Papa nanti marah.’”

JANGAN TURUTI SELALU

Pengalaman lain yang diceritakan dr. Edi berkaitan dengan pasiennya yang berusia 5 tahun yang baru saja dibelikan Play Station. “Dia mengeluh sakit perut di sekitar pusar. Karena saya sudah hafal sekali dan mengenal baik sifat si anak, maka saya tanyakan pada ibunya, apakah hari itu ada keinginan si anak yang tidak kesampaian?”

Kata dr. Edi, ibunya pun bercerita bahwa hari itu (Rabu) si anak ingin main PS. “Akhirnya saya katakan pada ibu itu bahwa obatnya ya main PS. Sementara di rumah mereka ada aturan bahwa main PS hanya boleh di hari Jumat sampai Minggu pagi saja. Tentunya saya juga harus mendukung peraturan si ibu. Jadi solusinya, si anak dibolehkan main saat itu tapi nanti dia harus tahu bahwa untuk main PS ada aturannya. Akhirnya setelah si anak diperbolehkan, dia pun tersenyum-senyum dan tampaknya lupa dengan sakit perutnya. Karena memang sakit perut lantaran psikis ini akan hilang setelah kondisi yang diinginkan/diharapkan anak sudah terpenuhi.

Tentunya, meluluskan setiap keinginan anak yang sakit psikis juga tidak benar. Anak tetap harus diberi pengertian bahwa segala sesuatu memiliki aturan. Pada dasarnya setiap anak itu pintar sesuai dengan usianya. Anak usia prasekolah pun sudah bisa diajak bicara untuk mau mengerti,” kisahnya panjang lebar.

KENALI BAHASA KASIH ANAK

Pada intinya, tandas dr. Edi, dalam menghadapi anak yang sakit karena psikis, orangtua hendaknya mau menggali masalah anak, mau mendengarkan anak dan belajar mengenali karakter serta bahasa kasih anaknya. “Anak sebetulnya punya bahasa kasih masing-masing. Coba deh, Ibu perhatikan. Ada anak yang selalu minta oleh-oleh kalau kita pulang kerja. Dia akan tanya, bawa apa? Tipe anak ini biasanya juga kalau pergi, sekalipun hanya ke supermarket, dia akan ingat untuk bawa sesuatu guna diberikan kepada adik, kakak atau orang rumah lainnya. Itu merupakan bahasa kasih si anak yang bentuknya lebih berupa materi. Jadi, anak akan menghargai orangtua jika sepulang bekerja membawakan oleh-oleh. Sebatang cokelat kecil sekalipun dia akan merasa senang. Ada juga anak yang bahasa kasihnya dalam bentuk perhatian. Misalnya, dia senang kalau diajak bicara, didongengi, dibacakan buku cerita, dan sebagainya. Nah, orangtua harus memenuhi kebutuhan anak akan bahasa kasihnya itu sambil mengimbangi dengan bahasa kasih yang lain. Bila orangtua mengenal baik bahasa kasih anak, maka orangtua bisa mengurangi friksi-friksi yang ada,” kata dr. Edi.

Saya pun mengangguk-angguk sambil tersipu. Dokter tidak menuliskan resep apa pun untuk Malik karena anak itu memang tidak sakit. Saya akhirnya menyadari mungkin ada sesuatu yang dipendam oleh Malik yang tidak dia ungkapkan. Maka, setelah tiba di rumah, pelan-pelan saya berusaha mengorek ceritanya. Hasilnya, dia cerita kalau dua hari lagi adalah hari ulang tahunnya dan dia ingin ulang tahunnya dirayakan di sekolah. Namun, dia gelisah karena di matanya tak terlihat kesibukan saya untuk mempersiapkan pesta ulang tahunnya itu. Sederhana sekali kan masalahnya?

Dedeh Kurniasih.

DEMAM KARENA EMOSI TERPENDAM

Selain sakit perut, ada juga sakit psikis yang ditunjukkan dengan gejala demam. “Hal ini dialami oleh adik perempuan saya,” kata dr. Edi. “Waktu itu orangtua saya ditugaskan di Caltex, Rumbai, dan adik saya masih di TK. Suatu hari sepulang sekolah bajunya kotor. Katanya, didorong oleh temannya laki-laki. Saya masih ingat temannya itu dan memang sangat mengganggu sekali. Sepulang sekolah adik saya bilang tak enak badan. Malamnya kala tidur ia mengigau memanggil nama temannya itu. Ibu sempat membangunkan dan menanyakan siapa teman yang dipanggil-panggilnya itu. Ternyata dia merasa kesal dengan kejadian di sekolah.

Esoknya, adik saya tidak masuk sekolah karena demam hingga 38 derajat. Ibu menelepon gurunya memberi tahu. Rupanya gurunya pun menceritakan kejadian kemarin di sekolah. Ibu saya sepertinya menangkap penyebab demam adik. Kemudian ibu menggali kejadian yang dialaminya. Adik bilang ia didorong sampai jatuh terpuruk dan roknya kotor. Dia merasa gemas dan ingin membalas atau melawan tapi tidak bisa.

Ketika dibawa ke dokter dan diperiksa, ternyata memang tidak ada gejala penyakit apa pun. Tak ada tanda radang tenggorokan, juga tak ada tanda infeksi telinga tengah maupun batuk-pilek. Semuanya serbabersih. Ternyata memang penyebabnya emosi yang terpendam. Kekesalan yang dialami adik saya itu yang memunculkan gejala demam tersebut. Setelah adik bercerita, ibu meyakinkan adik bahwa dia besok bisa bersekolah dan tak akan diperlakukan seperti itu lagi oleh temannya. Ibu pun sudah meminta bantuan gurunya. Akhirnya, setelah diajak bicara dan diberi pengertian, adik saya merasa fine kembali.

Namun, untuk membedakan demam yang dialami anak apakah karena suatu penyakit ataukah lantaran psikosomatis, terus terang, sulit sekali. Yang jelas, jika demam, apa pun penyebabnya, boleh saja orangtua memberikan obat penurun panas sesuai dengan aturan pakai.”

Sumber : Nakitav via http://ummukautsar.wordpress.com/2009/06/23/jika-anak-sakit-perut/

Artikel Terkait:

About these ads

2 responses to “Jika Anak Sakit Perut

  1. Saya jg punya kisah yg hampir mirip dengan cerita diatas,putri saya sering mengalami sakit perut dan demam.mula-mula sy kwatir melihat kondisinya,sambil sy beri obat dan konsultasi ke dokter spesialis.tp seiring penyakitnya sembuh sy juga curhat dari hati ke hati.ternyata dia tidak suka mata pelajaran matematika. karena katanya ibu gurunya suka mjewer telinga dan menekuk jidatnya.dia tidak suka,tp sy katakan bahwa biarkan sj ibu gurunya begitu,toh bukan kamu aja yg diperlakukan begitu,jd samakan sj perasaanmu dengan teman-teman mu spy kamu suka mt pelajaran mtk. Sepertinya resep sy mulai diperhatikan.dia sdh mau mengatakan ” cuek aja ya ma”.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s